Pemain Muda Arema Ini Takut Dengan Matematika

Muhammad Rafli yang berposisi sebagai striker muda di klub Arema, merasakan hal yang lebih berat ketimbang perrsaingan dalam memperbutkan skuat utama di tim bersama Arema. Hal yang ditakutinya adalah mata pelajaran matematika yang harus dia kerjakan dalam Ujian Nasional (UN).

“Layaknya kebanyakan anak-anak pada umumnya, kemungkinan matematika merupakan pelajaran yang begitu sulit. Namun, saya harus terus berjuang dan berusaha agar bisa melewatinya,” ucap pemain muda tersebut.

Muhammad Rafli
rafli yang sedang mengikuti ujian nasional

Rafli Lebih Senang Dengan Pelajaran Logika

Tidak meremehkan mata pelajaran lainnya, penyerang muda yang bermain di Arema itu senang dengan mata pelajaran bahasa Inggris. Termasuk juga bahasa Indonesia, hal itu membuatnya ingin memilih fakultas sosiologi.

“Maka dari itu, saya lebih memilih untuk mengambil sosiologi karena banyak menggunakan logika. Yang mana pelajaran tersebut tidak membutuhkan menghafal seperti pelajaran lainnya,” ujar pemain tim nasional U-19 Indonesia.

Rafli yang merupakan salah satu pemain Arema FC yang masih bestatus seorang pelajar. Dia yang duduki dibangku sekolah SMA Negeri 7 di Tangerang Selatan. Rafli yang sedang menjalani ujian nasional atau yang disingkat UN pada hari Senin lalu.

Tidak seperti para pemain sepak bola pada umumnya, yang menganggap bahwa sekolah dijadikan formalitas. Akan tetapi, Rafli memperhatikan dalam hal pendidikan untuk masa depannya. Selain menjadi seorang pesepakbola, dia pun masih memiliki cita-cita yang membutuhkan pengetahuan yang lebih dan gelar di akademik.

“Mengenai Akademik, menurut saya hal yang terpenting. Namun di lain sisi, saya ingin bisa sukses dalam dunia sepak bola,” kata pemain muda kelahiran 24 November 1988 itu.

bambang pamungkas
bepe selebrasi usai mencetak gol

Bambang Pamungkas Tidak Begitu Suka Dengan Matematika

Siapa yang tidak kenal dengan pemain sepak bola nomor satu di Indonesia, yang membela Persija Jakarta, Bambang Pamungkas. Yang mana pemain yang berposisi striker sudah sering mengikuti ajang kejuaran antar negara. Meski usianya yang sudah tidak lagi muda, dia tetap menjadi ikon Garuda Di Dadaku.

Dimana perjalanan dalam karir ‘Bepe’ panggilan akrabnya, memberikan insiprasi bagi orang lain. Sudah tidak asing lagi khusunya pecinta sepak bola di tanah air. Dia merupakan mesin gol bagi timnas Indonesia dan telah mencatatkan namanya, dalam penampilan terbanyak bersama timnas.

Meski umurnya kini 36 tahun, sampai saat ini pun dia masih memperkuat Persija Jakarta. Bepe yang terkenal dengan sundulan bola, lompatan tingginya, saat menggiring bola dan juga tendangan kerasnya. Ketika itu, usianya masih delapan tahun, namun dia bertekad untuk menjadi pemain sepak bola hebat.

Dan dia pun sudah membuktikannya, menjadi sepak bola terbaik di Indonesia, seperti Dwi Yulianto yang dijadikannya inspirasi. Dan dia mulai bermain di dunia sepak bola, ketika dirinya masuk SSB Hobby Sepak Bola Getas. Tidak lama kemudian pada tahun 1999 dia pun bergabung dengan Persija Jakarta.

Namun ada hal yang pasti akan membuat anda terkejut, bahwa pemain sepak bola yang merupakan ikon takur dengan matematika. Memang dirinya malas untuk belajar matematika, meski kedua orang tuanya menyuruhnya untuk kursus matematika di BSD, Tangerang Selatan.

Meski dirinya sempat melihat tempat kursus matematika itu, Bepe pun merasakan hal yang berbeda saat dirinya berada ditengah lapangan. Dan jika dia melihat soal-soal matematika ketika masa mudanya, dia lebih memilih untuk bermain sepak bola.

Lalu dia mengatakan kepada orang tuanya untuk bermain sepak bola, dibandingkan sekolah. Yang mana terdapat mata pelajaran hitung-hitungan yang tidak di sukainya itu. Hingga kini, dia membuktikan kepada orang tuanya menjadi sosok pemain sepak bola terbaik di Indonesia.